sejarah imlek

Imlek Tahun Baru China Dan Sejarah Perayaannya

Imek adalah sebuah festival musim semi dan merupakan tradisi tertua bagi orang china dan tidak banyak orang yang mengetahui originalitas dari kisah bagaiamana pertama kali perayaan festival ini di rayakan. Dalam banyak literatur telah menjelaskan tentang bagaiaman perayaan ini di lakukan untuk menghormati nabi kong hu cu dan sebenarnya tradisi ini telah di lakukan jauh sebelum masuknya buddhisme ke china.

Orang orang sering salah kaprah mengartikan imlek adalah sebuah hari besar bagi agama buddha terutama di indonesia dan sebenarnya hal ini tidak berhubungan dengan buddha yang masuk ke china jauh sebelum taoisme dan konfusianisme telah berkembang subur di negara ini.

Pada saat buddhisme masuk ke china maka proses percampuran antara tradisi dan ajaran buddha ini menjadi bersatu dan sering di salah artikan sampai sekarang. Padahal memang telah lama imlek di rayakan jauh sebelum ajaran buddha di babarkan. Berbagai legenda juga tercipta tentang bagaimana asal usul dari perayaan yang sejatinya hanya merayakan musim semi dimana adalah sebuah musim yang baik dan di sambut.

Terlepas dari itu sebuah cerita populer yang berkembang mengenai latar belakang bagaimana perayaan itu di lakukan melalui cerita rakyat tersebut. Terlepas dari kebenarnnya semua ini di mulai oleh sosok mahkluk yang di sebut dengna nian yang merupakan monster peneror masyarakat di kala itu sebelum perayaan imlek di lakukan dan kenapa di lakukan setiap tahun.

Berdarkan dari legenda china kuno, di waktu china kuno ada seekor monster bernama nian yang memiliki gigi tajam dan tanduk yang kokoh yang panjang dan mengerikan. Mahkluk nian ini telah hidup di dalam lautan dalam selama hidupnya dan akan datang untuk ke tepian pantai memburu para menusia yang akan di jadikan sebagai pasokan makanannya. Maka dari itu semalam sebelum jatuh musim semi pertama maka para penduduk di kala itu akan kabur dan bersembunyi di sekitaran desa untuk menghindari ancaman dan terror dari monster nian ini.

Para penduduk ini biasanya akan bersembunyi di sekitar area pengunungan untuk sementara waktu saat nian naik ke desa dan suatu waktu para penduduk ini menerima seorang pria tua dengan rambut memutih dan memiliki sorot mata yang jawam dan berjalan dengan tongkatnya. Sekilas orang orang bisa menganlinya sebagai seorang dengan tampilan pengemis.

Dalam kepanikan para penduduk akan menutup pintu dan jendelanya dan membawa sejumlah barang keperluan untuk mengungsi dan tidak ada yang peduli dengan seorang pria tua yang datang mengunjungi desa tersebut kala itu.

Tapi tidak dengan seorang nenek yang hidup pesisir timur desa tersebut yang memberikan pria tua bertampilan pengemis ini makanan dan menceritakan tentang kisah nian yang meneror para penduduk di malam tahun baru dan membujuk pria tua berambut putih semua ini untuk mengungsi bersmaa mereka. Tapi pria tua ini tampak sangat santai dan malah mengelus jenggot dan kumisnya dengan perlahan dan menyatakan kalau ia akan bermalam tepat di malam nian akan menyerang desa tersebut dan akan mengusir mahkluk nian tersebut atas kebaikan yang telah ia terima. Tapi sang nenek tidak merasa cukup di yakinkan oleh perkataan pria tua ini dan tetap membujuknya untuk pergi bersamanya, tapi pria tua ini tidak merubah pikirannya dan tanpa ada jalan keluar nenek terpaksa meninggalkannya dan pergi ke gunung.

Dan seperti tahun tahun sebelumnya, tepat di tengah malam monster nian muncul ke desar setelah keluar dari laut dan mahkluk ini bisa merasakan adanya perubahan atmosfir dari desa ini sebelumnya. Tidak ada tanda tanda kehidupan terlihat di desa itu seperti tahun lalu dan sebelumnya tapi tidak dengan sebuah rumah di pesisir timur.

Nian mendekati rumah itu dengan perlahan dan menemukan kertas merah yanjg di tempel pada pintu dan banyak sekali lilin yang di nyalakan di dalam rumah. Nian mendadak menjadi gemetaran dan ragu dan menatap ke semua benda benda aneh tersebut. Dan seketika itu juga suara kembang api terdengar dari halaman belakang dan membuatnya tidak berani mendekat dan pria tua ini mengenakan baju merah muncul dan menakuti nian dan pergi kembali ke lautan dan di tertawai oleh pria tua

Esok harinya para penduduk kembali ke rumah masing masing dan terkejut melihat desa mereka dalam kondisinya baik baik saja tidak seperti tahun sebelumnya. Nenek yang menyadari hal itu kemudian segera mencari penduduk lainnya dan menceritakan tentang pengemis pria tua yang datang sebelumnya dan mengaku kalau ia bisa mengusir nian.

Para penduduk yang merasa penasaran pun pergi mengecek rumah nenek yang telh tertempel dengan kertas merah di pintu maupun jendela, lilin dalam rumah, bambu, sisa sisa kembang api dan semua ornamental merah lainnya. Dan dalam diksusi mereka akhirnya para penduduk terecerahkan menyimpulkan semua hal yang merah merah ini akan membuat nian takut dan mengusirnya

Sejak saat itulah para penduduk merayakan imlek atau festival musim semi dengan segala sesuatu yang serba merah, bermain kembang api dan tradisi ini di teruskan turun temurun. Kata “GUO NIAN” sendiri juga merupakan arti dari bertahan dari serangan nian selain berarti melewati tahun yang lalu.