Sejarah HMI

Menilik Kisah Masa Lalu Himpunan Mahasiswa Islam

Himpunan mahasiswa Islam alias HMI jelas bukan nama asing di telinga masyarakat kita, terutama bagi mereka yang pernah mengenyam bangku pendidikan tinggi. Pasalnya, HMI merupakan salah satu organisasi di luar lingkungan kampus yang memiliki nama besar sangat luar biasa dan diikuti oleh banyak mahasiswa dari berbagai daerah.

Bisa dikatakan bahwa HMI selalu hadir di setiap daerah di mana ada perguruan tinggi dan tentu saja ada mahasiswa di situ, sehingga bisa dikatakan pula HMI merupakan infrastruktur politik di setiap daerah. Dengan demikian, artinya HMI disadari maupun tidak merupakan pihak yang turut memiliki andil dalam pembangunan skala daerah maupun skala nasional.

Sejarah Singkat Berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam

Tanggal 5 Februari tahun 1947 kiranya merupakan titik yang bersejarah bagi Himpunan Mahasiswa Indonesia.  Pasalnya pada tanggal itulah himpunan tersebut lahir dan berkembang hingga sekarang ini. Banyak sekali tokoh nasional apalagi tokoh lokal yang telah lahir dari organisasi yang diprakarsai atau diinisiasi oleh orang bernama Lafran Pane itu. Sejak awal organisasi tersebut berdiri, harapan bahwa organisasi tersebut dapat memberikan kontribusi positif bagi bangsa terus disematkan kepadanya.

Diawali dari berdirinya perserikatan mahasiswa Yogyakarta alias PMY pada bulan Oktober tahun 1946 dan juga Serikat Mahasiswa Indonesia alias SMI di tahun yang sama, membuat banyak mahasiswa Islam yang tergugah hatinya untuk membentuk organisasi serupa. Pasalnya kedua organisasi yang disebutkan tadi merupakan organisasi yang berhaluan komunis. Selain itu di Yogyakarta khususnya belum ada organisasi yang yang berorientasi Islam.

Lafran Pane yang saat itu merupakan mahasiswa di Sekolah Tinggi Islam menginisiasi sebuah pembicaraan bersama teman-temannya tentang gagasan untuk membentuk sebuah organisasi Islam. Hingga kemudian ia dan rekan-rekannya mengundang mahasiswa-mahasiswa di lingkungan Sekolah Tinggi Islam, Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada, serta tak ketinggalan Sekolah Tinggi Teknik. Setidaknya undangan dari Lafran Pane tadi dihadiri oleh 30 orang mahasiswa yang kemudian secara konsisten terus hadir pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Pertemuan-pertemuan yang mereka lakukan tak kunjung membuahkan hasil, pasalnya gagasan yang berusaha mereka wujudkan itu terus-menerus mendapatkan tentangan terutama dari PMI. Namun pada suatu ketika, dilakukanlah rapat mendadak yang sebetulnya mencuri jam kuliah salah satu dosennya guna mempersiapkan deklarasi berdirinya HMI.

Akhirnya terjadilah peristiwa bersejarah itu dimana Lafran Pane di salah satu ruangan perkuliahan STI secara resmi menyatakan berdirinya Himpunan Mahasiswa Indonesia, tepatnya pada tanggal 5 Februari tahun 1947. Ketika Lafran Pane mendirikan HMI di tahun tersebut sebetulnya dirinya masih berusia 25 tahun. HMI ia dirikan bersama 14 orang temannya yang lain diantaranya yaitu Asmin Nasution, Dahlan Husain, Kartono Zarkasi, Maisaroh Hilal, Yusdi Ghozali, Suwali, Mansyur, Muhammad Anwar, Siti Zainab,  Zukkarnaen, Hasan Basri, Toha Mashudi, Bidron Hadi dan Thayeb Razak. Pada kepengurusan yang pertama itu dipilihlah sang pendiri yaitu Lafran Pane sebagai ketua serta Asmin Nasution sebagai wakil ketuanya.

Kontribusi Himpunan Mahasiswa Indonesia

Dalam catatan sejarah dikatakan bahwa HMI telah menyumbangkan kontribusi yang luar biasa sejak awal Mereka berdiri. pasalnya, tujuan organisasi Mereka saja sudah tampak cukup konsisten dilaksanakan yakni mempertahankan Republik Indonesia dan meninggikan derajat rakyat Indonesia yang sedang dalam perjuangan melawan agresi Belanda serta kondisi umat Islam yang mengalami stagnasi.

Ketika terjadi pemberontakan oleh PKI di tahun 1965 HMI juga tidak tinggal diam. Pasalnya, HMI dianggap musuh utama oleh PKI sampai-sampai DN Aidit melakukan upaya provokasi terhadap anak buahnya dengan mengatakan bahwa apabila HMI tidak bisa dibubarkan oleh mereka maka sebaiknya pakai sarung saja para anak buahnya itu. Tetapi seperti yang kita ketahui bersama, yang bubar justru PKI dan bukan HMI.

Setidaknya hingga 2/3 masa Orde Baru berkuasa, HMI masih kokoh menunjukkan kekuatan mereka yang luar biasa. Bahkan saat Orde Baru mengubah gaya kekuasaannya dengan gaya yang lebih Represif dan otoriter memaksakan seluruh organisasi supaya menggunakan asas tunggal Pancasila, HMI dengan lantang menolaknya. Tetapi ternyata pada kongres berikutnya tepatnya di tahun 1986 dengan sangat terpaksa mereka mengakomodasi keinginan penguasa tersebut karena pertimbangan yang bersifat amat sangat politis. Maksudnya, hal itu dilakukan semata-mata guna menyelamatkan HMI dari gerusan penguasa yang bertindak cukup otoriter saat itu. Apalagi ancaman bahwa apabila tidak mau menerima Pancasila sebagai asas tunggal maka HMI akan dibubarkan. Tetapi akibatnya muncul organ HMI yang kemudian diberi nama HMI MPO alias majelis penyelamat organisasi yang diprakarsai oleh Eggy Sudjana.

Dari sejarah singkat berdirinya HMI di atas, dapat kita sadari bersama bahwa hadirnya HMI di Indonesia merupakan salah satu berkah yang patut untuk disyukuri. Terlepas dari berbagai polemik yang pernah menyertai dinamika kehidupan organisasi yang satu ini, hal itu tentu patut untuk dimaklumi, apalagi setiap organisasi pastilah memiliki dinamika kehidupannya sendiri.