Jong Islamieten Bond Sang Cahaya Kaum Terpelajar

Nama-nama pejuang Islam di Indonesia tentu amat sangat banyak sekali, contohnya seperti Mohammad Natsir, Mohammad Roem, Kasman Singodimedjo, Prawoto Mangkusasmito, Sjafruddin Prawiranegara dan lain sebagainya. Mereka dilahirkan oleh organisasi Islam untuk para pemuda saat itu yang jelas memiliki peran untuk membina sikap dan keyakinan mereka sebagai seorang muslim pejuang. Organisasi yang dimaksud adalah Jong Islamieten Bond alias JIB dan juga Student Islamic Studie Club yang jika ditranslasikan ke dalam bahasa Indonesia saat ini memiliki makna mahasiswa untuk studi Islam.

Mengenal Jong Islamieten Bond Lebih Dekat

Jong Islamieten Bond alias JIB merupakan perkumpulan pemuda Islam yang berdiri pada tahun 1925 di Jakarta, tepatnya pada tanggal 1 Januari. Organisasi tersebut didirikan oleh para pemuda pelajar ketika itu yang berharap memiliki organisasi pemuda dengan orientasi Islam serta mengajarkan pendidikan Islam.

Awalnya, organisasi tersebut didirikan guna mengadakan kursus-kursus agama Islam kepada para pelajar Islam serta untuk mengikat rasa persaudaraan di antara pemuda Pelajar Islam itu sendiri. Lebih jauh, ikatan rasa persaudaraan di antara para pelajar Islam itu diharapkan dapat terjalin lebih luas karena kebanyakan anggota berasal dari organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatra dan lain sebagainya.

JIB dianggap sebagai organisasi yang dapat menghambat gagasan sekularisasi yang digagas oleh pemerintah Hindia-Belanda kala itu. Sehingga seringkali juga dianggap sebagai basis pejuang kemerdekaan meskipun mereka secara tegas mengatakan bahwa JIB bukanlah organisasi politik.

Pada kepengurusan yang pertama, JIB diketuai oleh Raden Samsurijal dengan wakil Wibowo Purbohadidjojo. Kepengurusan itu baru memiliki empat cabang saja yang tersebar di berbagai daerah, antara lain Jakarta, Yogyakarta, Madiun dan Solo. Untuk dewan pimpinan pusatnya sendiri berada di Jakarta.

Yang menarik, dikatakan bahwa sang ketua pertama yakni Raden Samsurijal sebelumnya merupakan seorang anggota aktif Jong Java. Tetapi karena ketidak-sepemahaman dengan pengurus pusat Jong Java, akhirnya beliau keluar hingga akhirnya mendirikan Jong Islamieten Bond. Perbedaan pemahaman yang dimaksud adalah karena Jong Java dinilai tidak berkenan untuk mengadakan kuliah alias pengajaran keislaman kepada para anggotanya yang beragama Islam. Padahal anggota-anggota lainnya seperti yang beragama Katolik dan penganut Theosofi mendapatkan izin untuk melakukan pengajaran keagamaan mereka. Bahkan pengajaran tersebut dapat dikatakan cukup rutin dalam setiap pertemuan-pertemuan Jong Java. Hal tersebut kiranya cukup masuk akal mengingat Jong Java pada masa lalu merupakan organisasi yang berhaluan Theosofi.

Sebetulnya selain Raden Samsurijal ada tokoh lain juga yang menginginkan agar pengajaran Islam turut dilakukan di Jong Java bagi para pelajar Islam. Tokoh yang dimaksud adalah Kasman Singodimedjo. Lebih dari itu, Kasman bahkan memberikan usul agar Jong Java menjadikan Islam sebagai asas pergerakan mereka dan menjadi pionir atau perintis bagi organisasi-organisasi pemuda lainnya agar melakukan hal yang sama. Alasan Kasman mengusulkan hal tersebut adalah karena Islam merupakan agama mayoritas yang dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia, apalagi Islam juga dianggap mampu menyelesaikan sengketa apapun dalam organisasi-organisasi yang ketika itu banyak terpecah. Tetapi karena tidak disetujui maka Kasman termasuk salah satu yang mengikuti untuk keluar dari Jong Java dan mendirikan Jong Islamieten Bond di Jakarta.

Salah satu langkah awal dan nyata dari Jong Islamieten Bond dalam upaya pergerakan yang mereka lakukan adalah dengan mengeluarkan majalah Het Licht yang berarti an-nur alias cahaya. Majalah tersebut berisikan berbagai hal yang dianggap mampu menangkal pelecehan-pelecehan terhadap Islam. Pasalnya, majalah tersebut dengan berani memposisikan diri sebagai media yang berupaya menangkal segala upaya dari kelompok non Islam yang hendak memadamkan Cahaya Islam.

JIB juga mendirikan organisasi sayap dengan nama Organisasi Pandu Indonesia yang ternyata merupakan organisasi pandu pertama yang menyertakan nama Indonesia dalam nomenklaturnya. Tak berhenti disitu, JIB juga mendirikan sekolah dengan nama HIS alias Hollandsch Inlandsche School yang merupakan sekolah setingkat SD untuk anak-anak pribumi kalangan atas di Tegal dan juga Batavia.

JIB Pada Masa Penjajahan Jepang

Ketika Jepang memasuki Indonesia untuk menggantikan  Belanda menjajah Indonesia, banyak sekali organisasi yang dibekukan, termasuk salah satunya adalah JIB. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama karena memang Jepang tidak begitu lama menjajah Indonesia. Pasca kemerdekaan Indonesia Jong Islamieten Bond akhirnya bangkit kembali tepatnya pada 4 Mei tahun 1947. Tetapi nama Jong Islamieten Bond tidak lagi digunakan karena nama tersebut masih kental dengan unsur Belanda. Nama yang digunakan adalah pelajar Islam Indonesia alias PII. Organisasi tersebut dideklarasikan di kota Yogyakarta dengan sosok Yusti Ghozali sebagai deklarator.

Peran dari Jong Islamieten Bond maupun organisasi Pelajar Islam Indonesia jelas amat sangat besar dalam kebangkitan nasional serta perjuangan meraih kemerdekaan. Tetapi sangat disayangkan tidak banyak pemuda sekarang yang cukup mengenal organisasi tersebut sehingga nyaris lenyap dari Ingatan.